Propaganda Gaya Primitif Kelompok OPM Di Media Sosial Perlu Diwaspadai

Prajurit TNI bersama masyarakat Papua di sekitar perbatasan RI-PNG
Jakarta (d'Monitor) - Menanggapi pernyataan Gusby Waker sebagaimana diberitakan media online rakyatku.com, (18/12), yang mengklaim bahwa Kelompok Kekerasan Bersenjata/KKB telah membunuh 13 anggota TNI dalam kontak tembak selama 12 jam di Utigapa, menurut Kepala Pusat Penerangan/Kapuspen TNI, Mayjen TNI Sisriadi, berita itu tidak benar. Di era digital atau media sosial/medsos, institusi TNI tidak mungkin menutup-nutupi informasi.

Mayjen Susruadi saat dimintai konfirmasi oleh beberapa awak media di Jakarta beberapq hari lalu menyebut, TNI bukan organisasi liar seperti KKB. TNI adalah organisasi besar dikelola dengan sistem manajemen modern yang terpadu. Data individu personel TNI dicatat secara tertib. Perubahan data dilakukan secara periodik, sehingga pimpinan TNI dapat mengetahui kondisi setiap prajurit yang termutakhir (up to date).

Data tersebut meliputi data pribadi dan data keluarga, seperti nama, pangkat, NRP (Nomor Registrasi Prajurit), pendidikan, jabatan, data penugasan serta data lainnya. Demikian juga data riwayat kesehatan, tercatat dengan sangat rapih. Apabila seorang prajurit meninggal dunia, datanya dicatat untuk proses pengurusan pembayaran hak-hak ahli waris serta untuk keperluan penyusunan sejarah dan doktrin.

Setiap pimpinan TNI di semua tingkatan tak mungkin menyembunyikan data prajuritnya yang meninggal dunia, baik di asrama, rumah sakit, apalagi prajurit yang gugur di medan tugas pertempuran. Sekarang adalah era keterbukaan. Setiap prajurit TNI memiliki identitas lengkap dan tak mungkin bisa disembunyikan. Manakala seorang prajurit TNI sakit di tempat penugasan, keluarga di kampung halaman akan segera tahu.

Justru KKB sangat mungkin menyembunyikan data tentang anggotanya. Sebagaimana kita ketahui bersama, mereka adalah organisasi liar yang tak punya data keanggotaan, asal-usul dan keluarganya tak jelas. Berapa pun korban di pihak mereka, tidak akan ada yang mempertanyakan. Mereka bisa saja menyembunyikan identitas anggota yang tewas dalam kontak dengan Satgas Penegakan Hukum. Seperti yang bisa mereka lakukan sebelumnya, mereka selalu menuduh Satgas Penegakan Hukum membantai rakyat, jika ada anggota KKB yang terbunuh dalam kontak senjata. Opini itulah yang selalu mereka ulang-ulang di medsos.

Dapat dipastikan, pernyataan Gusby Waker tentang korban TNI oleh KKB adalah berita bohong dan merupakan bentuk propaganda. Kalau ada media yang mempublikasikan kebohongan itu tanpa konfirmasi ke institusi TNI, profesionalitas jurnalistiknya patut dipertanyakan. Fakta yang sebenarnya adalah puluhan anggota OPM yang tewas dalam kontak tembak dengan Satgas Penegakan Hukum tidak bisa terlaporkan karena tidak bisa diidentifikasi dan tidak ada keluarga yang mempertanyakan.

Pada kesempatan itu, Kapuspen TNI menambahkan, negara masih membuka pintu lebar-lebar bagi anggota KKB yang mau menyerahkan diri secara damai seperti rekan-rekannya yang sudah turun dan ikut membangun keluarga, bangsa dan negara (ma).